BAB 1 PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Interaksi sosial adalah hubungan timbal balik yang saling
mempengaruhi. Ada aksi dan ada reaksi. Pelakunya lebih dari satu. Individu vs
individu. Individu vs kelompok. Kelompok vs kelompok dll. Contoh guru mengajar merupakan
contoh interaksi sosial antara individu dengan kelompok. Interaksi sosial
memerlukan syarat yaitu Kontak Sosial dan Komunikasi Sosial.
Kontak sosial dapat berupa kontak primer dan kontak sekunder.
Sedangkan komunikasi sosial dapat secara langsung maupun tidak langsung.
Interaksi sosial secara langsung apabila tanpa melalui perantara. Misalnya A
dan B bercakap-cakap termasuk contoh Interaksi sosial secara langsung.
Sedangkan kalau A titip salam ke C lewat B dan B meneruskan kembali ke A, ini
termasuk contoh interaksi sosial tidak langsung.
Faktor yang mendasari terjadinya interaksi sosial meliputi
imitasi, sugesti, identifikasi, indenifikasi, simpati dan empati Imitasi adalah
interaksi sosial yang didasari oleh faktor meniru orang lain. Contoh anak gadis
yang meniru menggunakan jilbab sebagaimana ibunya memakai. Sugesti adalah
interaksi sosial yang didasari oleh adanya pengaruh. Biasa terjadi dari yang
tua ke yang muda, dokter ke pasien, guru ke murid atau yang kuat ke yang lemah.
Atau bisa juga dipengaruhi karena iklan.
Indentifikasi adalah interaksi sosial yang didasari oleh faktor
adanya individu yang mengindentikkan (menyadi sama) dengan pihak yang lain.
Contoh menyamakan kebiasaan pemain sepakbola idolanya. Simpati adalah interaksi
sosial yang didasari oleh foktor rasa tertarik atau kagum pada orang lain.
Empati adalah interaksi sosial yang disasari oleh faktor dapat
merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain, lebih dari simpati. Contoh
tindakan membantu korban bencana alam. Interaksi sosial mensyaratkan adanya
kontak sosial dan komunikasi sosial. Kemudian membuat terjadinya proses sosial.
Proses sosial dapat bersifat asosiatif dan disasosiatif Asosiatif meliputi
akomodasi, difusi, asimilasi, akulturasi, kooperasi (kerjasama) (Intinya
interaksi social yang baik-baik, kerjasama, rukun, harmonis, serasa dll).
Contoh kerja sama antara depertemen pendidikan nasional dengan PT Telkom dalam
program Jardiknas.
Disasosiatif meliputi konflik, kontravensi dan kompetensi
(Intinya interaksi sosial yang tidak baik, penuh persaingan, perang dingin,
bertengkar dll). Contoh Bapak memukul anaknya karena tidak mendengarkan
nasihatnya. Menyuruh pergi seorang pengemis dengan cara membentak.
1.2.
Rumusan masalah
Berpijak dari latar belakang di atas, maka yang menjadi rumusan
masalah pada penulisan makalah ini adalah :
1. Seperti
apakah �tindakan sosial di masyarakat?
2. Apa
yang dimaksud dengan interaksi sosial?
3.
Bagaimana bentuk-bentuk interksi sosial?
1.3. Tujuan
Tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu
tugas Mata kuliah Tempat Ruang Dan Sistem Sosial serta untuk wawasan dan ilmu
kami tentang pengaruh interaksi sosial bagi masyarakat
1.4. Metode
dan Prosedur
Metode yang digunakan penulis dalam penyusunan makalah ini yaitu
dengan mengumpulkan informasi dari berbagai buku dan browsing di internet.
BAB
2 PERMASALAHAN
2.1.
Syarat Terjadinya Interaksi Sosial
Menurut
Soerjono Soekanto, interaksi sosial tidak mungkin terjadi tanpa adanya dua
syarat, yaitu kontak sosial dan komunikasi.
1. Kontak
Sosial Kata “kontak” (Inggris: “contact’) berasal dari bahasa Latin con atau
cum yang artinya bersama-sama dan tangere yang artinya menyentuh. Jadi, kontak
berarti bersama-sama menyentuh. Dalam pengertian sosiologi, kontak sosial tidak
selalu terjadi melalui interaksi atau hubungan fisik, sebab orang bisa
melakukan kontak sosial dengan pihak lain tanpa menyentuhnya, misalnya bicara
melalui telepon, radio, atau surat elektronik. Oleh karena itu, hubungan fisik
tidak menjadi syarat utama terjadinya kontak.
Kontak sosial memiliki sifat-sifat berikut
Kontak sosial memiliki sifat-sifat berikut
a.
Kontak sosial dapat bersifat positif atau negatif. Kontak sosial
positif mengarah pada suatu kerja sama, sedangkan kontak sosial negatif
mengarah pada suatu pertentangan atau konflik.
b.
Kontak sosial dapat bersifat primer atau sekunder. Kontak sosial
primer terjadi apabila para peserta interaksi bertemu muka secara langsung.
Misalnya, kontak antara guru dan murid di dalam kelas, penjual dan pembeli di
pasar tradisional, atau pertemuan ayah dan anak di meja makan. Sementara itu,
kontak sekunder terjadi apabila interaksi berlangsung melalui suatu perantara.
Misalnya, percakapan melalui telepon. Kontak sekunder dapat dilakukan secara
langsung dan tidak langsung. Kontak sekunder langsung misalnya terjadi saat
ketua RW mengundang ketua RT datang ke rumahnya melalui telepon. Sementara jika
Ketua RW menyuruh sekretarisnya menyampaikan pesan kepada ketua RT agar datang
ke rumahnya, yang terjadi adalah kontak sekunder tidak langsung.
2.
Komunikasi
Komunikasi merupakan syarat terjadinya interaksi sosial. Hal terpenting dalam komunikasi yaitu adanya kegiatan saling menafsirkan perilaku (pembicaraan, gerakan-gerakan fisik, atau sikap) dan perasaan-perasaan yang disampaikan. Misalnya, seorang gadis dikirimi sekotak cokelat tanpa nama pengirim. Gadis itu menerimanya dengan suka cita. Tapi ia bertanya-tanya, siapa yang mengirimkannya, apa maksudnya, apakah sekotak cokelat itu simbol cinta kasih atau hanya sekadar simbol persahabatan? Pertanyaan-pertanyaan itu merupakan reaksi dan tafsiran si gadis terhadap si pemberi cokelat.
Ada lima unsur pokok dalam komunikasi. Kelima unsur tersebut adalah sebagai berikut.
Komunikasi merupakan syarat terjadinya interaksi sosial. Hal terpenting dalam komunikasi yaitu adanya kegiatan saling menafsirkan perilaku (pembicaraan, gerakan-gerakan fisik, atau sikap) dan perasaan-perasaan yang disampaikan. Misalnya, seorang gadis dikirimi sekotak cokelat tanpa nama pengirim. Gadis itu menerimanya dengan suka cita. Tapi ia bertanya-tanya, siapa yang mengirimkannya, apa maksudnya, apakah sekotak cokelat itu simbol cinta kasih atau hanya sekadar simbol persahabatan? Pertanyaan-pertanyaan itu merupakan reaksi dan tafsiran si gadis terhadap si pemberi cokelat.
Ada lima unsur pokok dalam komunikasi. Kelima unsur tersebut adalah sebagai berikut.
1.
Komunikator, yaitu orang yang menyampaikan pesan, perasaan, atau
pikiran kepada pihak lain.
2.
Komunikan, yaitu orang atau sekelompok orang yang dikirimi
pesan, pikiran, atau perasaan.
3.
Pesan, yaitu sesuatu yang disampaikan oleh komunikator. Pesan
dapat berupa informasi, instruksi, dan perasaan.
4.
Media, yaitu alat untuk menyampaikan pesan. Media komunikasi dapat
berupa lisan, tulisan, gambar, dan film.
5.
Efek, yaitu perubahan yang diharapkan terjadi pada komunikan,
setelah mendapatkan pesan dari komunikator.
Ada
tiga tahap penting dalam proses komunikasi. Ketiga tahap tersebut adalah
sebagai berikut.
1.
Encoding. Pada tahap ini, gagasan atau program yang akan
dikomunikasikan diwujudkan dalam kalimat atau gambar. Dalam tahap ini,
komunikator harus memilih kata, istilah, kalimat, dan gambar yang mudah
dipahami oleh komunikan. Komunikator harus menghindari penggunaan kode-kode
yang membingungkan komunikan.
2.
Penyampaian. Pada tahap ini, istilah atau gagasan yang sudah
diwujudkan dalam bentuk kalimat dan gambar disampaikan. Penyampaian dapat
berupa lisan, tulisan, dan gabungan dari keduanya
3.
Decoding. Pada tahap ini dilakukan proses mencerna dan memahami
kalimat serta gambar yang diterima menurut pengalaman yang dimiliki.
CIRI CIRI
INTERAKSI SOSIAL
·
Jumlah
pelakunya dua orang atau lebih
·
Adanya
komunikasi antar pelaku dengan menggunaka symbol atau lambing
·
Adanya
suatu dimensi waktu
·
Adanya
tujuan yang hendak dicapai dari hasil interaksi tersebut.
2.2.
Faktor –Faktor Yang Mendorong Interaksi Sosisal
1. faktor internal
a. a.adanya dorongan untuk meneruskan hidup
b. b.dorongan untuk memenuhi kebutuhan.
c. c.dorongan untuk melakukan komunikasi
d. d.dorongan untuk mempertahankan hidup
2. faktor eksternal
A.
Imitasi
Imitasi
adalah suatu tindakan meniru orang lain. Imitasi atau perbuatan meniru bisa
dilakukan dalam bermacam-macam bentuk. Misalnya, gaya bicara, tingkah laku,
adat dan kebiasaan, pola pikir, serta apa saja yang dimiliki atau dilakukan
oleh seseorang. Namun demikian, dorongan seseorang untuk meniru orang lain
tidaklah berjalan dengan sendirinya. Perlu ada sikap menerima, sikap mengagumi,
dan sikap menjunjung tinggi apa yang akan diimitasi itu. Menurut Dr. A.M.J.
Chorus, ada syarat yang harus dipenuhi dalam mengimitasi, yaitu adanya minat
atau perhatian terhadap obyek atau subyek yang akan ditiru, serta adanya sikap
menghargai, mengagumi, dan memahami sesuatu yang akan ditiru. Contoh imitasi
terdapat pada kegiatan seorang anak melihat ayahnya menyetir mobil. Tanpa
diajari, anak itu berlari-lari sambil kedua tangannya menirukan gerakan
seolah-olah tengah menyetir mobil. Imitasi mempunyai peranan yang sangat
penting dalam proses interaksi sosial. Imitasi dapat mendorong seseorang untuk
mematuhi norma-norma dan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat. Contohnya,
seorang anak akan meniru orang dewasa menyeberang lewat jembatan penyeberangan.
Namun demikian, imitasi juga dapat mengakibatkan sesuatu yang negatif jika
tindakan yang ditiru adalah tindakan yang menyimpang dari nilai-nilai dan
norma-norma yang berlaku di masyarakat. Contohnya, seorang pemuda meniru
ayahnya yang mabuk atau seorang pelajar meniru temannya yang membolos sekolah.
B.
Sugesti
Sugesti
berlangsung apabila seseorang memberi pandangan atau sikap yang dianutnya, lalu
diterima oleh orang lain. Biasanya, sugesti muncul ketika si penerima sedang
dalam kondisi yang tidak netral sehingga tidak dapat berpikir rasional. Segala
anjuran atau nasihat yang diberikan langsung diterima dan diyakini
kebenarannya. Pada umumnya, sugesti berasal dari hal-hal berikut.
1. Orang
yang berwibawa, karismatik, atau punya pengaruh terhadap yang disugesti,
misalnya orangtua, cendekiawan, atau ulama.
2. Orang
yang memiliki kedudukan lebih tinggi dari yang disugesti, misalnya pejabat
negara atau direktur perusahaan.
3. Kelompok
mayoritas terhadap kelompok minoritas. Misalnya dalam suatu rapat OSIS, ada
seorang yang berpendapat berbeda terhadap suatu masalah. Tetapi karena semua
teman-temannya setuju, maka ia pun mengubah pendapatnya.
4. Reklame
atau iklan di media massa. Contoh, iklan yang menggambarkan suatu produk
deterjen mampu menghilangkan noda dalam hitungan detik dapat menggiring
pendengar atau penonton untuk membeli produk itu karena terpengaruh.
Terjadinya
sugesti bukan hanya karena faktor pemberi sugesti, tapi karena beberapa faktor
yang ada di diri orang yang diberi sugesti. Faktor-faktor tersebut adalah
sebagai berikut.
1.
Terhambatnya daya berpikir kritis. Makin kurang kemampuan orang
mengkritisi sesuatu atau seseorang, makin mudah orang itu menerima sugesti dari
pihak lain. Daya kritis mengalami hambatan jika individu yang terkena stimulus
sedang dalam keadaan emosional. Misalnya, orang yang tengah marah besar pada
tetangganya akan mudah terprovokasi untuk melakukan perkelahian fisik.
2.
Kemampuan berpikir terpecah belah (dissosiasi). Dissosiasi
terjadi ketika orang sedang dilanda kebingungan karena dihadapkan pada berbagai
persoalan. Jika dalam suasana yang demikian ada pandangan, saran, atau
pendapat-pendapat orang, ia akan dengan mudah menerimanya tanpa pikir panjang.
3.
Orang yang ragu-ragu dan pendapat yang searah. Orang yang dalam
keadaan ragu-ragu pada umumnya akan mudah tersugesti atau akan mudah menerima
pendapat atau saran dari pihak lain, apalagi pendapat itu searah sehingga orang
yang ragu-ragu itu tidak bisa berkomunikasi langsung dengan pihak tersebut.
Misalnya, pada kasus iklan deterjen sebenarnya kita meragukan kebenaran iklan
tersebut. Tetapi, karena kita melihat dan mendengarnya setiap hari tanpa bisa
bertanya tentang kebenarannya, kita pun membelinya. Pada kasus tersebut,
sugesti berfungsi untuk lebih meyakinkan pendapat yang sudah ada, walaupun
masih ada keraguan.
C.
Identifikasi
Identifikasi
merupakan kecenderungan atau keinginan seseorang untuk menjadi sama dengan
pihak lain (meniru secara keseluruhan). Identifikasi sifatnya lebih mendalam
dibandingkan imitasi karena dalam proses identifikasi, kepribadian seseorang
bisa terbentuk. Orang melakukan proses identifikasi karena seringkali
memerlukan tipe ideal tertentu dalam hidupnya. Contoh identifikasi terdapat
pada seorang anak yang mengidolakan ayahnya. la berusaha mengidentifikasi
dirinya seperti ayahnya karena sikap, perilaku, dan nilai yang dimiliki oleh
ayahnya merupakan tipe yang ideal dan dapat berguna sebagai penuntun hidupnya.
Proses identifikasi dapat berlangsung secara sengaja dan tidak sengaja. Meskipun tanpa sengaja, orang yang mengidentifikasi tersebut benar-benar mengenal orang yang ia identifikasi sehingga sikap atau pandangan yang diidentifikasi benar-benar meresap ke dalam jiwanya. Contoh, biasanya pemain bulu tangkis junior punya pemain idola. Setiap idolanya bertanding, dia akan mengamati secara cermat bagaimana gaya dan strategi bermain idolanya tersebut. Kemudian ia meniru dan yakin bisa menjadi seperti idolanya.
Proses identifikasi dapat berlangsung secara sengaja dan tidak sengaja. Meskipun tanpa sengaja, orang yang mengidentifikasi tersebut benar-benar mengenal orang yang ia identifikasi sehingga sikap atau pandangan yang diidentifikasi benar-benar meresap ke dalam jiwanya. Contoh, biasanya pemain bulu tangkis junior punya pemain idola. Setiap idolanya bertanding, dia akan mengamati secara cermat bagaimana gaya dan strategi bermain idolanya tersebut. Kemudian ia meniru dan yakin bisa menjadi seperti idolanya.
D.
Simpati
Simpati
merupakan suatu proses di mana seseorang merasa tertarik kepada pihak lain. Melalui
proses simpati, orang merasa dirinya seolah-olah berada dalam keadaan orang
lain dan merasakan apa yang dialami, dipikirkan, atau dirasakan orang lain
tersebut. Dalam proses ini, perasaan memegang peranan penting walaupun alasan
utamanya adalah rasa ingin memahami dan bekerja sama dengan orang lain. Contoh,
ketika ada tetangga yang sedang tertimpa musibah, kita ikut merasakan
kesedihannya dan berusaha untuk membantunya. Pada umumnya, simpati lebih banyak
terlihat pada hubungan teman sebaya, hubungan ketetanggaan, atau hubungan
pekerjaan.
E.
Empati
Empati
merupakan simpati mendalam yang dapat mempengaruhi kejiwaan dan fisik
seseorang. Contohnya, seorang ibu akan merasa kesepian ketika anaknya yang
bersekolah di luar kota. Ia selalu rindu dan memikirkan anaknya tersebut
sehingga jatuh sakit. Contoh lain, seorang pria baru saja menjenguk keluarganya
yang mengalami kecelakaan. Orang tersebut kemudian jatuh sakit karena selalu
membayangkan dan memikirkan kejadian yang menimpa keluarganya.
Faktor-faktor yang diuraikan di atas (imitasi, sugesti, identifikasi, simpati, empati) merupakan faktor minimal yang menjadi dasar proses interaksi sosial. Simpati, empati, dan identifikasi lebih dalam pengaruhnya, namun prosesnya agak lambat jika dibandingkan dengan sugesti dan imitasi. Sugesti dan imitasi pengaruhnya kurang mendalam, namun prosesnya berlangsung cepat. Kelima faktor tersebut, cenderung berasal dari satu pihak individu atau bersifat psikologis.
Faktor-faktor yang diuraikan di atas (imitasi, sugesti, identifikasi, simpati, empati) merupakan faktor minimal yang menjadi dasar proses interaksi sosial. Simpati, empati, dan identifikasi lebih dalam pengaruhnya, namun prosesnya agak lambat jika dibandingkan dengan sugesti dan imitasi. Sugesti dan imitasi pengaruhnya kurang mendalam, namun prosesnya berlangsung cepat. Kelima faktor tersebut, cenderung berasal dari satu pihak individu atau bersifat psikologis.
2.3.
Bentuk-bentuk Tindakan Sosial
Pada dasarnya tindakan manusia, baik sebagai individu maupun
makhluk sosial terdiri dari dua tindakan pokok yaitu tindakan lahiriah dan
tindakan batiniah, sbagai berikut
1.
Tindakan
lahiriah
adalah tata cara bertindak yang tampak atau dapat dilihat dan cendeung
ditiru secara berulang-ulang oleh banyak orang.
2.
Tindaka
batiniah
adalah cara berfikir, berperasaa, dan berkehendak yang
dingkapkan dalam sikap dan bertindak, dilakukan berulang kali dan di ikuti oleh
banyak orang.
Di dalam kehidupan masyarakat, kita dapat mengenali beberapa
pola tindakan bathiniah yang terdiri dari bantuk-bentuk sebagai berikut:
1.
prasangka
(prejudice),
adalah anggapan atau penilaian terhadap suatu penomana tanpa di
tunjang dengan bukti-bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.
2.
sikap
sosial (social attitude),
adalah suatu bentuk pola perilaku lahiriah dan bathiniah
terhadap fenomena atua gejala yang mempunyai arti sosial.
3.
pendapat
umum (publik opinion),
adalah suatu komposisi pikiran masyarakat yang berpola dan
dibentuk dari beberapa golongan atau kelompok.propagan, adalah suatu makanisme
kegiatan yang dilakukan denga cara mempengaruhu massa atau publik agar mau
untuk menerima pola fikiran tertentu.
2.4.
Proses Sosial Asosiatif Interaksi Sosial
Proses asosiatif adalah bentuk
interaksi sosial yang dapat meningkatkan hubungan solidaritas antarindividu.
1. Kerjasama
(cooperation)
Kerjasama merupakan bentuk interaksi sosial yang utama.
Kerjasama dimaksudkan sebagai suatu usaha bersama antara perorangan atau
kelompok manusia untuk mencapai satu atau beberapa tujuan bersama. Kerjasama
ini semakin menguat apabila ada tantangan dari luar kelompoknya. Kerjasama bisa
timbul jika terjadi hal-hal berikut.
1)
Orang menyadari bahwa mereka mempunyai kepentingan-kepentingan
yang sama.
2)
Kedua belah pihak memiliki sumbangan atau kontribusi untuk
memenuhi kepentingan mereka melalui kerjasama. Kerjasama merupakan bentuk
proses sosial yang baik, tetapi bukan kerjasama dalam hal yang negatif, seperti
kerjasama ketika para siswa sedang melaku-kan ulangan atau ujian. Ada beberapa
bentuk kerjasama untuk menyelesaikan pekerjaan iru antara lain sebagai berikut.
a.
Kerukunan
Kerukunan
adalah hidup berdampingan secara damai dan melakukan kerjasama secara
bersama-sama. Kerukunan dapat ditunjukkan dari kegiatan kerja bakti yang
dilakukan warga atau secara bergiliran melakukan ronda untuk menjaga keamanan
kampung. Kerukunan pada intinya mencakup gotong-royong dan tolong-menolong.
b.
Tawar-menawar (bargaining)
Tawar-menawar
adalah bentuk perjanjian mengenai pertukaran barang dan jasa antara dua
organisasi atau lebih.
c.
Kooptasi
Kooptasi
adalah kerjasama dalam bentuk mau menerima pendapat atau ide orang atau
kelompok lain. Hal itu diperlukan agar kerjasama dapat berlanjut dengan baik.
d.
Koalisi
Koalisi
adalah bentuk kerjasama antara dua organisasi atau lebih yang mempunyai
kesamaan tujuan. Koalisi dilakukan agar memperoleh hasil yang lebih besar.
e.
Joint venture
Joint
venture adalah bentuk kerjasama yang dilakukan oleh beberapa perusahaan. Dengan
joint venture diharapkan hasil atau keuntungan yang diperoleh dari sebuah usaha
akan lebih besar.
2. Akomodasi
(Accomodation)
Istilah Akomodasi dipergunakan dalam
dua arti : menujukk pada suatu keadaan dan yntuk menujuk pada suatu proses.
Akomodasi menunjuk pada keadaan, adanya suatu keseimbangan dalam interaksi
antara orang-perorangan atau kelompok-kelompok manusia dalam kaitannya dengan
norma-norma sosial dan nilai-nilai sosial yang berlaku dalam masyarakat.
Sebagai suatu proses akomodasi menunjuk pada usaha-usaha manusia untuk
meredakan suatu pertentangan yaitu usaha-usaha manusia untuk mencapai
kestabilan.
Menurut Gillin dan Gillin, akomodasi
adalah suatu perngertian yang digunakan oleh para sosiolog untuk menggambarkan
suatu proses dalam hubungan-hubungan sosial yang sama artinya dengan adaptasi
dalam biologi. Maksudnya, sebagai suatu proses dimana orang atau kelompok
manusia yang mulanya saling bertentangan, mengadakan penyesuaian diri untuk
mengatasi ketegangan-ketegangan. Akomodasi merupakan suatu cara untuk
menyelesaikan pertentangan tanpa menghancurkan pihak lawan sehingga lawan tidak
kehilangan kepribadiannya.
Tujuan Akomodasi dapat berbeda-beda sesuai dengan situasi yang
dihadapinya, yaitu :
1.
Untuk
mengurangi pertentangan antara orang atau kelompok manusia sebagai akibat
perbedaan paham
2.
Mencegah
meledaknya suatu pertentangan untuk sementara waktu atau secara temporer
1. Memungkinkan
terjadinya kerjasama antara kelompok sosial yang hidupnya terpisah akibat
faktor-faktor sosial psikologis dan kebudayaan, seperti yang dijumpai pada
masyarakat yang mengenal sistem berkasta.
2.
mengusahakan
peleburan antara kelompok sosial yang terpisah.
Bentuk-bentuk Akomodasi:
1.
Corecion, suatu
bentuk akomodasi yang prosesnya dilaksanakan karena adanya paksaan
2.
Compromise, bentuk
akomodasi dimana pihak-pihak yang terlibat saling mengurangi tuntutannya agar
tercapai suatu penyelesaian terhadap perselisihan yang ada.
3.
Arbitration, Suatu
cara untuk mencapai compromise apabila pihak-pihak yang berhadapan tidak
sanggup mencapainya sendiri
4.
Conciliation,
suatu usaha untuk mempertemukan keinginan-keinginan dari pihak-pihak yang
berselisih demi tercapainya suatu persetujuan bersama.
5.
Toleration, merupakan
bentuk akomodasi tanpa persetujuan yang formal bentuknya.
6.
Stalemate, suatu
akomodasi dimana pihak-pihak yang bertentangan karena mempunyai kekuatan yang
seimbang berhenti pada satu titik tertentu dalam melakukan pertentangannya.
7.
Adjudication, Penyelesaian
perkara atau sengketa di pengadilan
3. Asimilasi
(Assimilation)
Asimilasi merupakan proses sosial
dalam taraf lanjut. Ia ditandai dengan adanya usaha-usaha mengurangi
perbedaan-perbedaan yang terdapat antara orang-perorangan atau
kelompok-kelompok manusia dan juga meliputi usaha-usaha untuk mempertinggi
kesatuan tindak, sikap, dan proses-proses mental dengan memerhatikan
kepentingan dan tujuan bersama.
Proses Asimilasi timbul bila ada Kelompok-kelompok
manusia yang berbeda kebudayaannya orang-perorangan sebagai warga kelompok tadi
saling bergaul secara langsung dan intensif untuk waktu yang lama sehingga
kebudayaan-kebudayaan dari kelompok-kelompok manusia tersebut masing-masing
berubah dan saling menyesuaikan diri
Beberapa bentuk interaksi sosial yang
memberi arah ke suatu proses asimilasi (interaksi yang asimilatif) bila memilii
syarat-syarat berikut ini: Interaksi sosial tersebut bersifat suatu pendekatan
terhadap pihak lain, dimana pihak yang lain tadi juga berlaku sama interaksi
sosial tersebut tidak mengalami halangan-halangan atau pembatasan-pembatasan.
Interaksi sosial tersebut bersifat langsung dan primer. Frekuaensi interaksi
sosial tinggi dan tetap, serta ada keseimbangan antara pola-pola tersebut.
Artinya, stimulan dan tanggapan-tanggapan dari pihak-pihak yang mengadakan
asimilasi harus sering dilakukan dan suatu keseimbangan tertentu harus dicapai
dan dikembangankan.
Faktor-faktor yang dapat mempermudah terjadinya suatu asimilasi
adalah :
Toleransi
kesempatan-kesempatan yang seimbang
di bidang ekonomi sikap menghargai orang asing dan kebudayaannya sikap tebuka
dari golongan yang berkuasa dalam masyarakat persamaan dalam unsur-unsur
kebudayaan perkawinan campuran (amaigamation) adanya musuh bersama dari
luar
Faktor umum penghalangan terjadinya asimilasi:
Terisolasinya kehidupan suatu
golongan tertentu dalam masyarakat kurangnya pengetahuan mengenai kebudayaan
yang dihadapi dan sehubungan dengan itu seringkali menimbulkan faktor ketiga
perasaan takut terhadap kekuatan suatu kebudayaan yang dihadapi perasaan bahwa
suatu kebudayaan golongan atau kelompok tertentu lebih tinggi daripada
kebudayaan golongan atau kelompok lainnya.
Dalam batas-batas tertentu, perbedaan
warna kulit atau perbedaan ciri-ciri badaniah dapat pula menjadi salah satu
penghalang terjadinya asimilasi In-Group-Feeling yang kuat
menjadi penghalang berlangsungnya asimilasi. In Group Feeling berarti
adanya suatu perasaan yang kuat sekali bahwa individu terikat pada kelompok dan
kebudayaan kelompok yang bersangkutan.
Gangguan dari golongan yang berkuasa terhadap minoritas lain
apabila golongan minoritas lain mengalami gangguan-gangguan dari golongan yang berkuasa
faktor perbedaan kepentingan yang kemudian ditambah dengan
pertentangan-pertentangan pribadi.
Asimilasi menyebabkan
perubahan-perubahan dalam hubungan sosial dan dalam pola adat istiadat serta
interaksi sosial. Proses yang disebut terakhir biasa dinamakan akulturasi.
Perubahan-perubahan dalam pola adat istiadat dan interaksi sosial kadangkala
tidak terlalu penting dan menonjol.
2.5.
Proses Sosial Disosiatif Interaksi Sosial
Proses disosiatif sering disebut sebagai oppositional
proccesses, yang persis halnya dengan kerjasama, dapat ditemukan pada
setiap masyarakat, walaupun bentuk dan arahnya ditentukan oleh kebudayaan dan
sistem sosial masyarakat bersangkutan. Oposisi dapat diartikan sebagai cara
berjuang melawan seseorang atau sekelompok manusia untuk mencapai tujuan tertentu.
Pola-pola oposisi tersebut dinamakan juga sebagai perjuangan untuk tetap hidup
(struggle for existence). Untuk kepentingan analisis ilmu pengetahan,
oposisi proses-proses yang disosiatif dibedkan dalam tiga bentuk, yaitu :
1. Persaingan (Competition)
Persaingan atau competition dapat
diartikan sebagai suatu proses sosial dimana individu atau kelompok manusia
yang bersaing mencari keuntungan melalui bidang-bidang kehidupan yang pada
suatu masa tertentu menjadi pusat perhatian umum (baik perseorangan maupun
kelompok manusia) dengan cara menarik perhatian publik atau dengan mempertajam
prasangka yang telah ada tanpa mempergunakan ancaman atau kekerasan. Persaingan
mempunya dua tipe umum :
Bersifat Pribadi : Individu, perorangan, bersaing dalam
memperoleh kedudukan. Tipe ini dinamakan rivalry.
2. Kontraversi (Contravetion)
Kontravensi pada hakikatnya merupakan
suatu bentuk proses sosial yang berada antara persaingan dan pertentangan atau
pertikaian. Bentuk kontraversi menurut Leo von Wiese dan Howard
Becker ada 5 : yang umum meliputi perbuatan seperti penolakan,
keenganan, perlawanan, perbuatan menghalang-halangi, protes, gangguang-gangguan,
kekerasan, pengacauan rencana, yang sederhana seperti menyangkal pernyataan
orang lain di muka umum, memaki-maki melalui surat selebaran, mencerca,
memfitnah, melemparkan beban pembuktian pada pihak lain, dst. yang intensif,
penghasutan, menyebarkan desas desus yang mengecewakan pihak lain, yang
rahasia, mengumumkan rahasian orang, berkhianat. yang taktis, mengejutkan
lawan, mengganggu dan membingungkan pihak lain.
2.6. Interaksi Sosial Berdasarkan
Suatu Hubungan
Proses-proses sosial adalah cara-cara berhubungan yang dapat
dilihat apabila orang-perorangan dan kelompok-kelompok manusia saling bertemu
dan menentukan sistem serta bentuk-bentuk hubungan tersebut, atau apa yang akan
terjadi apabila ada perubahan-perubahan yang menyebabkan goyahnya cara-cara
hidup yang telah ada. Berdasarkan sudut inilah komunikasi dapat dipandang
sebagai suatu sistem di dalam kelompok masyarakat maupun sebagai sebuh proses
sosial. Adanya hubungan timbal balik dalam memperngaruhi tiap individu pada
saat terjadinya komunikasi dapat membentuk suatu pengetahuan maupun pengalaman
baru yang dirasakan oleh masing – masing individu. Hal ini membuat kegiatan
komunikasi menjadi suatu dasar yang kuat dalam kehidupan maupun proses sosial
seseorang. Adanya tingkat kesadaran di dalam berkomunikasi di antara warga –
warga dalam kehidupan bermasyarakat dapat membuat masyarakat dipertahankan
sebagai suatu kesatuan dan menciptakan apa yang dinamakan sebagai suatu sistem
komunikasi. Sistem komunikasi ini mempunyai lambang – lambang yang diberi arti
dan menghasilkan persepsi khusus dalam memahami lamabang – lambang tersebut
oleh masyarakat.Karena kelangsungan kesatuannya dengan jalan komunikasi
itu,setiap masyarakat dapat membentuk kebudayaan berdasarkan sistem
komunikasinya masing-masing.
2.7. Dampak
Interaksi Sosial
Hubungan
sosial selalu ada dalam masyarakat dan merupakan bagian penting dalam kehidupan
masyarakat. Hubungan sosial akan memberi warna kedinamisan pada kehidupan
masyarakat. Hubungan sosial aada yang bersifat ppositif dan ada pula yang
bersifat negatif. Kedua sifat yang berlainan ini akan Menimbulkan dampak
interaksi yang berlainan pula. Hubungan sosial yang positif akan membawa
masyarakat dalam kedamaian dan ketenangan dan selanjutnya akab tercipta
integrasi (persatuan) pada masyarakat tersebut. Sebaliknya, hubungan masyarakat
yang bersifat negative, akan membaawa konflik pada masyarakat dan akhirnya akan
terjadi perpecahan dalam lappisan masyarakat.
- Terpenuhinya kebutuhan individu dan kelompok yang tidak dapat dipenuhi sendiri tanpa adanya interaksi dengan orang lain.
- Kerjasama manusia yang terus berkembang seiring dengan makin kompleksnya kebutuhan dan situasi masyarakat saat ini.
- Hubungan sosial antara dua atau lebih kelompok sosial yang berbeda akan terintegrasi lebih kuat karena timbulnya solidaritas dan kesetiakawanan yang tinggi.
- Individu- individu yang berbeda akan saling kenal
- Tercapainya kestabilan antara dua/ lebih kelompok yang bertikai
- Lahirnya unsur kebudayaan baru dengan tidak menghilangkan atau mengeliminasi kebudayaan asli yang mendukungnya.
- Terjadinya negosiasi antara pihak- pihak yang bertikai.
B. Dampak
interaksi sosial secara negative :
- Kerusakan dan hilangnya harta benda dan nyawa jika terjadi kontak atau benturan fisik
- Persaingan yang tajam akan membuat kontrol sosial tidak berfungsi
- Akan menimbulkan prasangka yang memicu terjadinya kerugian bagi orang lain
- Aktivitas yang dilakukan akan mengakibatkan terjadinya benturan/ kontak fisik
- Menimbulkan rencana / niat mencelakakan pihak lain.
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Dari
penjelasan-penjelasan dan pemaparan yang telah disebutkan sebelumnya dapat
diamati apabila sesuai dengan norma-norma dan nilai-nilai sosial yang berlaku
dalam masyarakat, interaksi sosial akan berlangsung secara baik. Sebaliknya,
apabila interaksi sosial tidak dilakukan sesuai dengan norma-norma dan
nilai-nilai sosial yang ada dalam masyarakat maka interaksi sosial akan
berlangsung kurang baik bahkan bisa saja sangat buruk.
3.2. Saran
Kami sebagi
penyusun makalah ini berharap makalah ini dapat dimanfaatkan sesuai dengan
fungsinya. Terjaganya makalah ini merupakan harapan kami semua. Kepada pembaca
yang menggunakan makalah ini dalam berbagai bidang diharapkan dapat menjaga
dengan sebaik-baiknya. Kepada adik-adik yang sekiranya akan menggunakan makalah
ini sebagai panduan pembuatan makalah baru diharapkan kesediaanya untuk menjaga
makalah ini. Tidak lupa kami sebagi penyusun berharap bahwa karya ilmiah ini
tetap dipertahankan guna memacu daya pikir dan kemandirian siswa. Kepada
adik-adik yang menjadikan makalah ini sebagi panduan, disarankan untuk mencari
sumber referensi yang lebih banyak guna melengkapi karya ilmiah dari yang
kurang ini menjadi lebih lengkap. Dan, sebagai penyusun kami berharap makalah
ini dapat membantu meyelesaikan tugas.

0 komentar:
Posting Komentar